Sebagai
pelengkap dari apa yang telah diceritakan oleh Akh Fajar di sini, maka cerita
ini kubuat dengan perspektif yang beda. Seorang tuan rumah tentu mempunyai
kesan yang berbeda dari seorang tamu. Maka ane pun begitu, dengan tak berharap
apapun dari pembaca sekalian (baik tepuk tangan, decak kagum atau malah
lemparan bata), ku buat tulisan ini hanya sekedar tulisan. Yah, tidak lebih. Tidak lagi sebagai ungkapan kekaguman pada alam eksotis Magetan, karena udah pernah ane ceritakan di postingan lain. Tapi lebih kepada suasana pertemanan yang penuh hal yang mengesankan. Cekidot, gan!
***
Hari itu, Rabu,
mendadak menjadi hari yang agak lain dari biasanya. Tidak hanya karena ada
pesan di inboks fb-ku yang berisikan akan adanya kunjungan (yang jelas bukan
kunjungan Bapak RI-1) beberapa kawan yang lama tak bersua. Tetapi juga
karena ane mulai menemukan ke-enjoy-an mengajar di hadapan anak-anak, setelah
sebelumnya ane merasa tertekan jika harus mengajari anak-anak agar bisa cas-cis-cus
dengan bahasa arab itu.
Dengan sedikit
kaget, akhirnya ku minta kepastian pesan itu tentang apakah jadi mereka datang
ke rumahku. Dan jawaban “iya”-pun terpampang indah di kolom komentar di dinding
akunku. Oke, berarti ane harus merekonstruksi total pengaturan waktu hari ini.
Sebagaimana semua orang tahu kalo ba’da dhuhur adalah waktunya istirahat siang
bagi pengacara (pengangguran banyak acara-red) seperti ane ini. Kalau mereka
benar-benar ingin ke rumahku, maka tidak ada lagi tidur siang. Setidaknya untuk
hari ini saja.
Maka suasana
semarak pun ingin ane persiapkan. Secara yang akan datang adalah tamu
kehormatan (berapa kali sih ingin kuberitahu bahwa dia bukan RI-1?),
maka penyambutannya pun sebisa mungkin ingin ane semarakkan. Walaupun pada
akhirnya nanti pada kenyataannya hanya bersambutkan karpet, bukannya berwarna
merah melainkan hijau. Yah, rumput. Bukannya apa-apa, hanya saja rumahku memang
mewah banget (ups, mepet sawah!). Dan kalo musim penghujan begini, jalan
aksesnya pun serasa catwalk para model yang musti hati-hati agar nggak
kepleset. Ups.. hehe.
Meski agak
molor dari jam yang disepakati, ane tetap bersikap toleran. Tidak seperti
Ustadz M*n*f (ups, sensor! Dilarang menyebut merek, hehe) yang konon kalo molor
dari jam yang disepakati, maka tamunya disuruh pulang. Tak peduli lagi meski
dia berangkatnya pakai kapal layar yang sudah dua hari mengarungi samudra serta
dua hari tidak makan dan dikejar-kejar oleh monster Kraken di tengah lautan.
Haha, hiperbolis banget. Maka setelah pulang ngajar yang juga setelah sholat
dhuhur, si Hanif pun mengirim pesan singkat bahwa mereka akan datang sebentar
lagi.
***
Mentari
mencapai titik kulminasinya, serasa ingin memanggang sesiapapun yang hinggap di
bumi. Cericit beburung menjadi musik latar dan efek gemericik air sungai
menambah kesan bahwa memang rumahku desa banget. Namun ya tidak lantas seperti
yang digambarkan oleh Mr Thukul bahwa ndeso itu identik dengan nggak tau
internet. Maka ane jawab dengan idiom mas Thukul satunya lagi, “rumah boleh
ndeso, asal rezeki kutho”. Aaminn. Dan memang “ndeso” itu pada dasarnya bukan
disematkan pada asal tempat tinggal, tetapi “ndeso” itu sejatinya disematkan
pada sikap dan kepribadian. Jadi meski asalnya dari kampung, tapi kalau
kepribadiannya menawan dan nggak kampungan maka dia bukan “ndeso”. Oke, cukup
dulu pembelaan diri dari ane. Hehe.
Champ-ku bertereak-tereak minta diangkat.
Oh, tenyata si Hanif lagi.
“Sudah sampai
mana, Nif”, tanyaku.
“Udah mau ke
arah terminal.”
“Owh, berarti
ntar yu terus aja, lalu ada perempatan ambil kiri, dua ratusan meter ke barat,
kalo ada toko “Ijo” masuk gangnya. Lurus mentok udah sampai. Atau nanti low
udah sampai perempatan u meseg ane biar ane jemput.”
Obrolan singkat
itupun ditutup dengan jawaban melegakan. “Ya”, kata Hanif.
Mmm
tralala..trilili.., ku menghampiri lemari es. Kubuka secara perlahan seraya
berharap bahwa di dalamnya ada berkerat-kerat daging, atau beraneka rupa roti,
atau apapun yang bisa dimakan. Dan tenyata gayung pun tak bersambut. Yah, tak
ada makanan secuil pun di sana. Berarti ane harus segera memutar otak. Halah,
pergi aja ke toko, selesai, nggak perlu muter otak kali...
Maka, sekalian
nunggu rombongan Solowiyun ini tiba, ane pergi ke toko dekat perempatan. Atau lebih
tepatnya sambil menjemput mereka yang bisa jadi agak bingung arah ke rumahku.
Tak begitu lama nunggu, mereka pun tiba. Di perempatan itu, kami saling
menjabat. Kamipun berlomba untuk melukis sesungging sunyum di raut wajah di
antara kami. Agak kaget dengan keikut-sertaan Ihsan dan Arif, yang semula ane
kira cuma Hanif sama Fajar saja yang ingin ke rumah.
Mereka
membuntutiku dari belakang (ya iyalah masa’ buntut ada di depan?) menuju
singgasana “mewah”-ku. Hanya 50 meteran berjalan sudah sampai di TKP. Dan dua
mbak Jupe mereka ane suruh memarkirkannya di pekarangan samping rumah. Hmm,
teganya ya mereka “menunggangi” mbak Jupe rame-rame. Haha.
“Silakan,
monggo, udkhulu....”, tampak mereka berebut kursi rotan di ruang tamu.
“!^@%$!(*)!@”, mereka
ngedumel nggak jelas. Atau kupingku yang lagi soak ya? WTF!
Diawali dengan
saling menanyakan kabar, trus nglanjutin di mana setelah dari ma’had, dan
banyak lagi, semua kelihatan sumringah. Kayak pada nggak punya utang gitu.
Sebagai bentuk kepekaan, segelas minuman rasa “Semangka!” (Semangat kakak!)
kuhidangkan. Bukannya apa-apa, kayaknya majelis ini akan segera bubar kalau
nggak segera ku hidangkan minuman. Huhu.
Ngalor-ngidul-ngwetan-ngulon,
kami ngobrol gak tentu arah. Lalu si Hanif angkat bicara.
“Piye, Ga,
jarene ngajar ya?”, tanya Hanif kepadaku.
“Hu’um, yah
nggo sambilan.” (batinku sambilan apaan, wong itu pekerjaan satu-satunya kog).
“Lha, gajine?”,
tanya si Fajar bernada mengintrogasi.
“Ya,
di-cukup-cukup-in aja.” (sumpah, kalian kalo tahu gajiku pasti miris T_T)
Masing-masing,
baik Ihsan, Arif, Fajar, maupun Hanif saling canda dan meluapkan kerinduan.
Saking banyaknya hal yang diobrolin, sampai lupa detilnya. Pokoknya semua
diomongin, mulai dari dunia perkuliahan sampai harga cabe kriting yang sering
naik (ah, nggak gitu-gitu juga kali). Ruang tamu itu, menjadi saksi pertama
kehangatan berkawan.
Tampak mata si
Arif sayu, kayak kecapekan banget gitu. Mungkin melihat lantai keramikku yang
kinclong itu, dia pengin segera menghempaskan tubuhnya di situ. Maka ku ajak
aja ngobrol biar nggak jadi ngantuk. Kalo sama si Ihsan, nyambung banget kalo
ngobrol tentang “LEKON” dan solusinya. Yah, LEmah KONeksi itu lho! Maka seluruh
merek modem pun tak ada yang terlewat kami absen. Ah, si Fajar. Dunia modif
emang sulit dipisahkan dari hidupnya. Ibarat garam bagi semangkuk sayur, hidup
ini pun menjadi istimewa dan “berasa” kalau udah nge-modif motor. Lalu si
Hanif, paling grapyak untuk saat itu. Nggak nyangka lho, kalo pertemuan pertama
kali pas Santoso mau pinjem jaket buat sampel itu, bisa jadi semacam ini. Oks,
moga langgeng. ^^d
Kupaham maksud
mereka memelintir-melintir perut. Atau molat-molet tanpa sebab nyang jelas.
Atau berkedap-kedip matanya kayak brondong perempatan. Maka segera ku ngibrit
ke dapur lagi, cari makanan. Eh, nggak ada lagi. Maka kupetik pelajaran
moril no.16: kalo mau datang ke rumah orang konfirm dulu berhari-hari
sebelumnya knapa, biar nggak kelaperan lu pada! Ah, ngacir ke warung dulu ah...
Dianterin sama mbak Reva mencari makanan di warung. Dan, mie ayam spesial
perempatan pun jadi pilihanku saat itu. Selain murah, mi-nya banyak, dan
rasanya pun gak hancur-hancur amat.
Tada! Lima
mangkuk mie siap dilahap. Dengan basa-basi klasik, ku persilakan mereka berempat
menyantapnya. Agak malu-malu tapi mau, tergambar jelas di mimik mereka. Kayak
belon makan 3 hari, mie yang meluap-luap keluar wadah itu, sekonyong-konyong
lenyap kayak ditelan bumi. Mmm, ane maklumi juga sih. Secara mungkin mereka
kecapekan berkendara kurang lebih 2 jam-an dengan jalan yang nge-trek abis. Dan
pastinya mereka gak kepikiran untuk mampir makan di pinggir jalan mungkin. Ok,
acara untu selesai. And now, preparing for Asar praying.
Terdengar si
muadzin udah ngeluarin suaranya sekeras yang dia bisa. Dan kami pun bergegas
angkat kaki ke masjid yang kebetulan tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki itu.
Maka, tiga motor diperjalankan untuk mengantar kami ke masjid. Semua siap
berangkat kecuali Arif. Pakaiannya dianggapnya kurang begitu terhormat untuk
digunakan saat menghadap Ingkang Murbeing Dumadi, Allah subhanahu wata’ala. Maka
sehelai koko lusuh pun ku persilakan memakainya.
***
Rerumput
menari-nari gemulai seiring irama syahdu sang angin yang meniupnya. Semburat jingga
tampak di ufuk barat sana. Ah, mereka berempat pun mengikuti naluri bawaan
lahir mereka: yang nggak tahan dengan keindahan panorama alam pedesaan. Ane
maklumi juga sih, kalo satu-dua atau keseluruhan dari mereka sejak kecil hidup
di lingkungan perkotaan. Kota yang cuma ada asap kendaraan dan seabrek
pencemaran lingkungan lainnya dengan sangat bervariatif.
Clingak-clinguk
ane lewat jendela, ingin tahu keberadaan mereka sedang apa di luar. Owh,
ternyata. Di bawah naungan pohon ketela tahun, mereka berkumpul membentuk
koloni (kayak rayap ajah?). Tak kulewatkan momentum ini, sebuah benda ajaib
yang konon kita ketahui nantinya dinamakan kamera digital itu kubawa saat
menuju mereka. Ane gak nyangka kalo mereka juga suka dijepret, padahal ane
ragu-ragu pada mulanya. Bak model yang kamera-genik kami sangat aktif
memanfaatkan benda-benda yang ada. Pohon pisang, sungai kecil yang udah asat,
kebun tebu, gunung lawu, semuanya jadi bakground ke-narsis-an kami. Seperti
beranggapan bahwa hidup hanya diperuntukkan untuk bernarsis ria, kami sampai lupa
daratan. Kalo ada obat anti-mati-gaya yang dijual eceran pasti akan kami tenggak.
Andai kameraku
bisa bicara, pasti dia udah ogah-ogahan meng-capture wajah narso (tanya si Arif
apa artinya!) kami. Andai kameraku bisa muntah, pasti dia udah ngeluarin semua
isi perut se-usus-ususnya sekalian. Andai kameraku bisa lapor polisi, pasti dia
udah mengadukan bahwa di sini ada bromocorah yang lagi nampang. Ah, untungnya
kamera hanya sebatas kamera yang nggak bisa makan, bicara, apalagi kentut.
Dengan timer
yang ter-plugin di kam-dig itu, kami berlima berfoto bersama kayak F4 (baca:
Ef-Se, itu tuh boyband dari korea). Lho F4 kan cuma empat orang, lho yang satu
siapa dong? Mungkin pembantunya lagi ikutan juga. Haha. Ibarat
foto-kelas-tinggi, kami pun memperhatikan angle-nya juga. Kayak foto
pre-wedding yang sekarang lagi nyohor ituh..
Oke acara
“pemotretan” udahan. Di samping muka yang ingin diberi haknya, si perut pun tak
mau kalah. Kukuruyuuuk... perut kami pun jadi agak laperan. Ah, untung saja
ummiku perhatian. Sepiring heci pun menjadi korban kebrutalan nafsu kami. Untuk
mengalihkan perhatian kerakusanku mengambil heci, ku ajak ngobrol aja mereka.
Dan, tak begitu lama sepiring heci tandas hingga akar-akarnya.
Seakan tak ada
puasnya menikmati keindahan alam yang eksotis ini. Terlihat dari gerak-gerik
mereka yang kayaknya gak pengin pulang. Maka biar agak betahan dikit, kuajak
aja mereka memetik jeruk langsung dari pohonnya. Mengendap-endap,
mengendus-endus akhirnya ketemu juga jeruk yang matang. Kami nggak kawatir
ketahuan pemiliknya, karena itu punyaku (Oh, please!). Agak ragu dengan
kulitnya yang nggak meyakinkan, si Hanif pun nyeletuk heran.
“Ah, masih ijo
gini kulitnya. Manis nggak nih?”, tanya Hanif ragu.
“Uhh, sini.
Biar tak kupasin”, kurebut jeruk di tangannya, “Nih, coba makan!”
“Hmmm, iya enak
juga brow”, si Fajar nyelonong kayak metromini.
“Petik yang
banyak aja, buat oleh-oleh.” kata ane mempersilakan.
“Iyah...”
mereka kompak. “Soal makanan aja kompak”, batinku.
***
Mentari tak
kuasa menahan, ingin segera beranjak ke peraduan. Siang berganti petang
menjelang. Kulihat burung terbang melayang. Pohon-pohonan tenang dan diam. Tak
terasa kehangatan siang ini nyaris berganti dinginnya malam. Dan itu tanda pula
bahwa mereka sudah ingin kembali ke tanah halaman. Bertemu dengan handai
taulan. Ku membuat mereka selalu mengingat kesan sebelum perpisahan. Walau
hanya sesungging senyuman.
Hingga, ucapan
salam pun menjadi pemungkas cerita. Cerita ketika kehangatan berkawan, rindu
ingin direka-ulangkan.
Di sela kehangatan berkawan, aku pandang.
Satu persatu garis wajahmu penuh harapan.
Andai saja terus bersama setiap masa sehati.
Suratan Tuhan kita di sini, menapaki cerita bersama.
Cinta berkawan karena sehati dalam kasih Ilaahi.
Tepiskan hal yang berbeda, agar kisah kita teramat panjang.
Simpan rapi harapan berkawan selamanya.
~EdCoustics, Cinta Berkawan
NB: Cerita ini memuat unsur dramatisasi
dan tidak melewati proses penyuntingan. Apabila ada kesamaan Nama & Karekter,
maka tidak ada unsur pencitraan atau justru pembunuhan karakter. ^^v




0 umpan balik:
Posting Komentar