Jumat, 04 November 2011

Ketika Kehangatan Berkawan, Rindu ingin Direka-ulangkan



Sebagai pelengkap dari apa yang telah diceritakan oleh Akh Fajar di sini, maka cerita ini kubuat dengan perspektif yang beda. Seorang tuan rumah tentu mempunyai kesan yang berbeda dari seorang tamu. Maka ane pun begitu, dengan tak berharap apapun dari pembaca sekalian (baik tepuk tangan, decak kagum atau malah lemparan bata), ku buat tulisan ini hanya sekedar tulisan. Yah, tidak lebih. Tidak lagi sebagai ungkapan kekaguman pada alam eksotis Magetan, karena udah pernah ane ceritakan di postingan lain. Tapi lebih kepada suasana pertemanan yang penuh hal yang mengesankan. Cekidot, gan!


***

Hari itu, Rabu, mendadak menjadi hari yang agak lain dari biasanya. Tidak hanya karena ada pesan di inboks fb-ku yang berisikan akan adanya kunjungan (yang jelas bukan kunjungan Bapak RI-1) beberapa kawan yang lama tak bersua. Tetapi juga karena ane mulai menemukan ke-enjoy-an mengajar di hadapan anak-anak, setelah sebelumnya ane merasa tertekan jika harus mengajari anak-anak agar bisa cas-cis-cus dengan bahasa arab itu.

Dengan sedikit kaget, akhirnya ku minta kepastian pesan itu tentang apakah jadi mereka datang ke rumahku. Dan jawaban “iya”-pun terpampang indah di kolom komentar di dinding akunku. Oke, berarti ane harus merekonstruksi total pengaturan waktu hari ini. Sebagaimana semua orang tahu kalo ba’da dhuhur adalah waktunya istirahat siang bagi pengacara (pengangguran banyak acara-red) seperti ane ini. Kalau mereka benar-benar ingin ke rumahku, maka tidak ada lagi tidur siang. Setidaknya untuk hari ini saja.

Maka suasana semarak pun ingin ane persiapkan. Secara yang akan datang adalah tamu kehormatan (berapa kali sih ingin kuberitahu bahwa dia bukan RI-1?), maka penyambutannya pun sebisa mungkin ingin ane semarakkan. Walaupun pada akhirnya nanti pada kenyataannya hanya bersambutkan karpet, bukannya berwarna merah melainkan hijau. Yah, rumput. Bukannya apa-apa, hanya saja rumahku memang mewah banget (ups, mepet sawah!). Dan kalo musim penghujan begini, jalan aksesnya pun serasa catwalk para model yang musti hati-hati agar nggak kepleset. Ups.. hehe.

Meski agak molor dari jam yang disepakati, ane tetap bersikap toleran. Tidak seperti Ustadz M*n*f (ups, sensor! Dilarang menyebut merek, hehe) yang konon kalo molor dari jam yang disepakati, maka tamunya disuruh pulang. Tak peduli lagi meski dia berangkatnya pakai kapal layar yang sudah dua hari mengarungi samudra serta dua hari tidak makan dan dikejar-kejar oleh monster Kraken di tengah lautan. Haha, hiperbolis banget. Maka setelah pulang ngajar yang juga setelah sholat dhuhur, si Hanif pun mengirim pesan singkat bahwa mereka akan datang sebentar lagi.

***

Mentari mencapai titik kulminasinya, serasa ingin memanggang sesiapapun yang hinggap di bumi. Cericit beburung menjadi musik latar dan efek gemericik air sungai menambah kesan bahwa memang rumahku desa banget. Namun ya tidak lantas seperti yang digambarkan oleh Mr Thukul bahwa ndeso itu identik dengan nggak tau internet. Maka ane jawab dengan idiom mas Thukul satunya lagi, “rumah boleh ndeso, asal rezeki kutho”. Aaminn. Dan memang “ndeso” itu pada dasarnya bukan disematkan pada asal tempat tinggal, tetapi “ndeso” itu sejatinya disematkan pada sikap dan kepribadian. Jadi meski asalnya dari kampung, tapi kalau kepribadiannya menawan dan nggak kampungan maka dia bukan “ndeso”. Oke, cukup dulu pembelaan diri dari ane. Hehe.

Champ-ku bertereak-tereak minta diangkat. Oh, tenyata si Hanif lagi.

“Sudah sampai mana, Nif”, tanyaku.

“Udah mau ke arah terminal.”

“Owh, berarti ntar yu terus aja, lalu ada perempatan ambil kiri, dua ratusan meter ke barat, kalo ada toko “Ijo” masuk gangnya. Lurus mentok udah sampai. Atau nanti low udah sampai perempatan u meseg ane biar ane jemput.”

Obrolan singkat itupun ditutup dengan jawaban melegakan. “Ya”, kata Hanif.

Mmm tralala..trilili.., ku menghampiri lemari es. Kubuka secara perlahan seraya berharap bahwa di dalamnya ada berkerat-kerat daging, atau beraneka rupa roti, atau apapun yang bisa dimakan. Dan tenyata gayung pun tak bersambut. Yah, tak ada makanan secuil pun di sana. Berarti ane harus segera memutar otak. Halah, pergi aja ke toko, selesai, nggak perlu muter otak kali...

Maka, sekalian nunggu rombongan Solowiyun ini tiba, ane pergi ke toko dekat perempatan. Atau lebih tepatnya sambil menjemput mereka yang bisa jadi agak bingung arah ke rumahku. Tak begitu lama nunggu, mereka pun tiba. Di perempatan itu, kami saling menjabat. Kamipun berlomba untuk melukis sesungging sunyum di raut wajah di antara kami. Agak kaget dengan keikut-sertaan Ihsan dan Arif, yang semula ane kira cuma Hanif sama Fajar saja yang ingin ke rumah.

Mereka membuntutiku dari belakang (ya iyalah masa’ buntut ada di depan?) menuju singgasana “mewah”-ku. Hanya 50 meteran berjalan sudah sampai di TKP. Dan dua mbak Jupe mereka ane suruh memarkirkannya di pekarangan samping rumah. Hmm, teganya ya mereka “menunggangi” mbak Jupe rame-rame. Haha.

“Silakan, monggo, udkhulu....”, tampak mereka berebut kursi rotan di ruang tamu.

“!^@%$!(*)!@”, mereka ngedumel nggak jelas. Atau kupingku yang lagi soak ya? WTF!

Diawali dengan saling menanyakan kabar, trus nglanjutin di mana setelah dari ma’had, dan banyak lagi, semua kelihatan sumringah. Kayak pada nggak punya utang gitu. Sebagai bentuk kepekaan, segelas minuman rasa “Semangka!” (Semangat kakak!) kuhidangkan. Bukannya apa-apa, kayaknya majelis ini akan segera bubar kalau nggak segera ku hidangkan minuman. Huhu.

Ngalor-ngidul-ngwetan-ngulon, kami ngobrol gak tentu arah. Lalu si Hanif angkat bicara.

“Piye, Ga, jarene ngajar ya?”, tanya Hanif kepadaku.

“Hu’um, yah nggo sambilan.” (batinku sambilan apaan, wong itu pekerjaan satu-satunya kog).

“Lha, gajine?”, tanya si Fajar bernada mengintrogasi.

“Ya, di-cukup-cukup-in aja.” (sumpah, kalian kalo tahu gajiku pasti miris T_T)

Masing-masing, baik Ihsan, Arif, Fajar, maupun Hanif saling canda dan meluapkan kerinduan. Saking banyaknya hal yang diobrolin, sampai lupa detilnya. Pokoknya semua diomongin, mulai dari dunia perkuliahan sampai harga cabe kriting yang sering naik (ah, nggak gitu-gitu juga kali). Ruang tamu itu, menjadi saksi pertama kehangatan berkawan.

Tampak mata si Arif sayu, kayak kecapekan banget gitu. Mungkin melihat lantai keramikku yang kinclong itu, dia pengin segera menghempaskan tubuhnya di situ. Maka ku ajak aja ngobrol biar nggak jadi ngantuk. Kalo sama si Ihsan, nyambung banget kalo ngobrol tentang “LEKON” dan solusinya. Yah, LEmah KONeksi itu lho! Maka seluruh merek modem pun tak ada yang terlewat kami absen. Ah, si Fajar. Dunia modif emang sulit dipisahkan dari hidupnya. Ibarat garam bagi semangkuk sayur, hidup ini pun menjadi istimewa dan “berasa” kalau udah nge-modif motor. Lalu si Hanif, paling grapyak untuk saat itu. Nggak nyangka lho, kalo pertemuan pertama kali pas Santoso mau pinjem jaket buat sampel itu, bisa jadi semacam ini. Oks, moga langgeng. ^^d

Kupaham maksud mereka memelintir-melintir perut. Atau molat-molet tanpa sebab nyang jelas. Atau berkedap-kedip matanya kayak brondong perempatan. Maka segera ku ngibrit ke dapur lagi, cari makanan. Eh, nggak ada lagi. Maka kupetik pelajaran moril no.16: kalo mau datang ke rumah orang konfirm dulu berhari-hari sebelumnya knapa, biar nggak kelaperan lu pada! Ah, ngacir ke warung dulu ah... Dianterin sama mbak Reva mencari makanan di warung. Dan, mie ayam spesial perempatan pun jadi pilihanku saat itu. Selain murah, mi-nya banyak, dan rasanya pun gak hancur-hancur amat.

Tada! Lima mangkuk mie siap dilahap. Dengan basa-basi klasik, ku persilakan mereka berempat menyantapnya. Agak malu-malu tapi mau, tergambar jelas di mimik mereka. Kayak belon makan 3 hari, mie yang meluap-luap keluar wadah itu, sekonyong-konyong lenyap kayak ditelan bumi. Mmm, ane maklumi juga sih. Secara mungkin mereka kecapekan berkendara kurang lebih 2 jam-an dengan jalan yang nge-trek abis. Dan pastinya mereka gak kepikiran untuk mampir makan di pinggir jalan mungkin. Ok, acara untu selesai. And now, preparing for Asar praying.

Terdengar si muadzin udah ngeluarin suaranya sekeras yang dia bisa. Dan kami pun bergegas angkat kaki ke masjid yang kebetulan tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki itu. Maka, tiga motor diperjalankan untuk mengantar kami ke masjid. Semua siap berangkat kecuali Arif. Pakaiannya dianggapnya kurang begitu terhormat untuk digunakan saat menghadap Ingkang Murbeing Dumadi, Allah subhanahu wata’ala. Maka sehelai koko lusuh pun ku persilakan memakainya.

***

Rerumput menari-nari gemulai seiring irama syahdu sang angin yang meniupnya. Semburat jingga tampak di ufuk barat sana. Ah, mereka berempat pun mengikuti naluri bawaan lahir mereka: yang nggak tahan dengan keindahan panorama alam pedesaan. Ane maklumi juga sih, kalo satu-dua atau keseluruhan dari mereka sejak kecil hidup di lingkungan perkotaan. Kota yang cuma ada asap kendaraan dan seabrek pencemaran lingkungan lainnya dengan sangat bervariatif.

Clingak-clinguk ane lewat jendela, ingin tahu keberadaan mereka sedang apa di luar. Owh, ternyata. Di bawah naungan pohon ketela tahun, mereka berkumpul membentuk koloni (kayak rayap ajah?). Tak kulewatkan momentum ini, sebuah benda ajaib yang konon kita ketahui nantinya dinamakan kamera digital itu kubawa saat menuju mereka. Ane gak nyangka kalo mereka juga suka dijepret, padahal ane ragu-ragu pada mulanya. Bak model yang kamera-genik kami sangat aktif memanfaatkan benda-benda yang ada. Pohon pisang, sungai kecil yang udah asat, kebun tebu, gunung lawu, semuanya jadi bakground ke-narsis-an kami. Seperti beranggapan bahwa hidup hanya diperuntukkan untuk bernarsis ria, kami sampai lupa daratan. Kalo ada obat anti-mati-gaya yang dijual eceran pasti akan kami tenggak.

Andai kameraku bisa bicara, pasti dia udah ogah-ogahan meng-capture wajah narso (tanya si Arif apa artinya!) kami. Andai kameraku bisa muntah, pasti dia udah ngeluarin semua isi perut se-usus-ususnya sekalian. Andai kameraku bisa lapor polisi, pasti dia udah mengadukan bahwa di sini ada bromocorah yang lagi nampang. Ah, untungnya kamera hanya sebatas kamera yang nggak bisa makan, bicara, apalagi kentut.

Dengan timer yang ter-plugin di kam-dig itu, kami berlima berfoto bersama kayak F4 (baca: Ef-Se, itu tuh boyband dari korea). Lho F4 kan cuma empat orang, lho yang satu siapa dong? Mungkin pembantunya lagi ikutan juga. Haha. Ibarat foto-kelas-tinggi, kami pun memperhatikan angle-nya juga. Kayak foto pre-wedding yang sekarang lagi nyohor ituh..

Oke acara “pemotretan” udahan. Di samping muka yang ingin diberi haknya, si perut pun tak mau kalah. Kukuruyuuuk... perut kami pun jadi agak laperan. Ah, untung saja ummiku perhatian. Sepiring heci pun menjadi korban kebrutalan nafsu kami. Untuk mengalihkan perhatian kerakusanku mengambil heci, ku ajak ngobrol aja mereka. Dan, tak begitu lama sepiring heci tandas hingga akar-akarnya.

Seakan tak ada puasnya menikmati keindahan alam yang eksotis ini. Terlihat dari gerak-gerik mereka yang kayaknya gak pengin pulang. Maka biar agak betahan dikit, kuajak aja mereka memetik jeruk langsung dari pohonnya. Mengendap-endap, mengendus-endus akhirnya ketemu juga jeruk yang matang. Kami nggak kawatir ketahuan pemiliknya, karena itu punyaku (Oh, please!). Agak ragu dengan kulitnya yang nggak meyakinkan, si Hanif pun nyeletuk heran.

“Ah, masih ijo gini kulitnya. Manis nggak nih?”, tanya Hanif ragu.

“Uhh, sini. Biar tak kupasin”, kurebut jeruk di tangannya, “Nih, coba makan!”

“Hmmm, iya enak juga brow”, si Fajar nyelonong kayak metromini.

“Petik yang banyak aja, buat oleh-oleh.” kata ane mempersilakan.

“Iyah...” mereka kompak. “Soal makanan aja kompak”, batinku.


***

Mentari tak kuasa menahan, ingin segera beranjak ke peraduan. Siang berganti petang menjelang. Kulihat burung terbang melayang. Pohon-pohonan tenang dan diam. Tak terasa kehangatan siang ini nyaris berganti dinginnya malam. Dan itu tanda pula bahwa mereka sudah ingin kembali ke tanah halaman. Bertemu dengan handai taulan. Ku membuat mereka selalu mengingat kesan sebelum perpisahan. Walau hanya sesungging senyuman.

Hingga, ucapan salam pun menjadi pemungkas cerita. Cerita ketika kehangatan berkawan, rindu ingin direka-ulangkan.

Di sela kehangatan berkawan, aku pandang.
Satu persatu garis wajahmu penuh harapan.
Andai saja terus bersama setiap masa sehati.
Suratan Tuhan kita di sini, menapaki cerita bersama.
Cinta berkawan karena sehati dalam kasih Ilaahi.
Tepiskan hal yang berbeda, agar kisah kita teramat panjang.
Simpan rapi harapan berkawan selamanya.
~EdCoustics, Cinta Berkawan

NB: Cerita ini memuat unsur dramatisasi dan tidak melewati proses penyuntingan. Apabila ada kesamaan Nama & Karekter, maka tidak ada unsur pencitraan atau justru pembunuhan karakter. ^^v

0 umpan balik:

Posting Komentar