Jumat, 18 Februari 2011

Tegak Terpancang dengan Cita yang Terang


Buatlah visi...
Agar tak lagi bermalasan dalam bekerja
Agar keputus asaan hilang dirasa
Agar nikmat berkorban tetap dipunya

Karena visi telah terpahat
Maka jalan pun telah terhampar sejauh mata memandang
Karena makna sudah tertambat
Maka tak risau lagi dengan yang menghadang

Jadikan ia selalu bening
Agar sekitar kita mendapat imbas manfaatnya
Agar kita yang lalai ada pangingatnya
Agar yang di dalam dada tetap manjadi nakhoda

Maka, bantulah ia agar senantiasa tak berdebu...
Karna maksiat-maksiatmu...



Kita yang mabuk ditelan aktivitas harian yang menjenuhkan, mungkin lupa dengan tatanan bentuk cita kita. Cita yang merupakan gambaran utuh keadaan kita di masa mendatang, telah kita kesampingkan jauh dari permukaan. Mimpi atau apalah itu, sungguh sangat membantu. Bagaimanapun kita yang seudah sekian lama berjalan mendadak menghenti tapak karena peta hidup kita terserak.

Lalai yang, kalau tak segera diobati, akan semakin memarah. Tak jadi masalah kalau ia segera dibenah. Namun kalau dibiarkan maka hidup bagai kehilangan arah. Itulah visi kawan. Ialah energi yang bisa menggedor semangat seorang putra dari keluarga tak berpunya hingga meraih sarjana strata dua. Atau dari orang pedalaman sebuah qabilah terbelakang yang suka merendahkan derajad wanita, gagah menjadi seorang penakluk sepertiga dunia. Itu semua kekuatan visi. Itu efek depan dari mimpi.

Setidaknya kalau kita punya cita yang telah kita pancang sebelum memutuskan berjalan, maka sedahsyat apapun terpaan yang menggoyahkan pijakan, akan mudah kita singkirkan. Namun jika sebaliknya, kita abaikan urgensi cita di muka, maka berapa umur yang kita akan bertahan dengan goyahnya telapak.

Mimpi sering disalah-artikan. Ia sering dikonotasi-negatifkan. Ia banyak disematkan oleh orang yang sinis pada pentingnya menata tujuan hidup pada mereka yang berupaya menata-rapikan rencana ke depan. Mimpi jadi kambing hitam. Sejatinya mereka yang mengatai itulah yang menghitam masa depan mereka—bak kambing-kambing di kandang.

Mereka yang belum begitu yakin akan kekuatan mimpi dengan mudah termakan ucapan penuh dengki itu. Ujung-ujungnya mereka tak jadi menata visi untuk nanti dia gunakan untuk bekal. Ucapan sarat kedengkian itu berhasil menyesatkan banyak orang. Mereka tak sadar bahwa kelamnya hidup yang ia jalani adalah buah dari keapatisan mencanang visi oleh karena peduli pada pendengki tadi.

Mimpi di sini sangat jauh dari apa yang banyak dikata orang sebagai “bunga tidur” itu. Bukan, sangat jauh bertolak belakang. Mimpi di sini tidak bisa disamakan dengan hadiah dari Allah saat kita melakukan pekerjaan paling tidak produktif, tidur itu. Justru mimpi ini membuat kita selalu bangkit terjaga. Bahkan mimpi di sini menuntut kita untuk selalu melipat kain sarung dan siap siaga. Mimpi di sini penyebab ke-produktivitas-an kita.

Ia adalah energi dari dalam yang mensuplai tenaga cadangan saat gairah melayu. Ia tak sedikitpun memberi kita kesempatan untuk berhenti sebelum sampai tujuan. Ia akan senantiasa menyorak-sorai pada kita yang mulai malas bergerak menata puing masa depan. Ia akan memarahi kita saat langkah melamban. Ia selalu mengingatkan bahwa tujuan kita begitu tinggi dan masih jauh serta butuh pengorbanan lebih. Ia adalah penasihat pribadi yang paling setia dan paling mengerti mood kita.

Betapa kita sangat butuh itu. Mimpi itu. Jangan sampai kita berani mendepaknya dari bagian kesuksesan kita. Memang sih manusia hanya wajib merencana, dan Allah-lah yang menentukan ending ceritanya. Namun bukankah kalau kemauan kita jelas lalu diiring ikhtiar tanpa batas akan mudah dikabulkan Allah—karena keterus terangan kita pada Allah? Allah akan cepat menjawab seorang hamba yang berdoa, “Ya Allah Yang Maha Pengasih, karuniai kami kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di Rumah-Mu.”, daripada doa orang yang songong yang berdoa, “Ya Allah, Kau tahu yang kumau, maka kabulkanlah.” Kira-kira orang yang terakhir ini tadi akan meneruskan dengan ketololan selanjutnya, “Kalau Kau kabulkan Yaa Allah, akan kami tambah syukur kami, dan kalau tidak Maka Engkau Pemilik Semesta Alam.”

Meski terdengar rendah hati, khusyu’ memelas namun sejatinya itu wujud kerendahan dirinya. Nihilnya cita-cita lah penyebabnya. Bagaimana Allah mau mengabulkan orang yang tak paham dengan apa yang dimintanya? Bagaimana mungkin Allah akan segera menjawab permintaan orang songong yang tak yakin doanya akan dijawab? Sungguh memalukan. Bagaimana tidak, dia selain ragu dengan pintanya, dia juga ragu kepada Allah akan kemampuanNya untuk mengabulkan doa rendahannya.

Mungkin ungkapan singkat sarat hikmah ini bisa jadi rujukan, “Barangsiapa yang hidup mengalir saja bagai air yang mengalir, maka ketahuilah bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.” Yap, kekosongan cita tidak akan menambah bagi empunya kecuali keterpurukan di masa mendatang. Asa yang selalu kita usahakan agar tak terputus itu adalah buah nyata dari beningnya cita. Ia selalu menuntut keterjagaan da kesiagaan kita. Bahkan untuk berleha-leha tanpa karya pun itu sebuah pantangan yang menyakitkannya.

***

Di pihak lain, di saat orang sudah meyakini akan urgensi mimpi, masih ada saja pihak yang menggembosi dengan perkataan, “Ya, okelah. Kita memang harus bermimpi dan menata cita, tapi siapa yang mau bertanggungjawab kalau para dreamer itu manjadi tidak realistis lagi tindakannya. Mereka terlalu dibuai angan yang sangat tinggi hingga menihilkan usaha-usaha kecil nan remeh—yang seharusnya mengisi lembaran hari-hari mereka..”

“Dan lagi, bukankah para pendahulu kita—salaful ummah—tak pernah meramu mimpi untuk keseharian mereka, alih-alih untuk masa depan mereka? Utsman bin Affan misalnya, pernah berkata: Dulu semasa jahiliyah aku menata 1001 cita-cita, namun kini aku Islam dan telah berjalan di atas cita-citaku itu.”

Ya, memang benar. Justru itulah tuntutan setelah menata cita: berjalan di atas cita-cita. Artinya tak perlu merumuskan berlembar-lembar uraian visi jika usaha mewujudkannya jauh dari harapan. Visi dan misi harus berjalan selaras. Biarkan ia berpadu dan sejalan menuntun langkah kita yang sering buta. Ke manapun yang ia tuju—insyaAllah—akan menuntun ke tujuan kita, meski sesekali bermanuver melintasi batu besar halangan.

Bervisi bukan lantas bersantai ria, justru tubuh ini serasa tak diberinya kesempatan untuk bertelekan di dipan barang sesaat saja. Karena, bagaimana mau santai sedang tempat yang sedang ia pijak itu bukanlah yang dituju. Ia sedang rehat minum di terminal pemberhentian sementara. Tujuan sesungguhnya masih belum terindra oleh mata. Masih di batas cakrawala sana. Maka bervisi bisa melejitkan diri dan terhindar dari kemalasan yang merupakan pangkal kehancuran. Kemunculan kemalasan adalah bermula dari nihilnya visi dan tujuan.

***

Maka masih tak begitu fatal kalau kita baru terpikir tentang ini. Tentang urgensi cita. Yang penting kita sekarang sadar. Mari segera bangkit, menyusun puing-puing cita yang pernah kita gagas. Karena kita telah tahu bagaimana peranan sebuah cita pada keberlanjutan hidup kita.

Setelah cita terpancang dengan terang, tugas kita selanjutnya adalah memperjuangkannya agar terlaksana. Adalah omong kosong jika kita hanya pandai merancang gagasan tapi lemah dalam pengaplikasian.

Bahkan tak jarang ketika kita terjun ke lapangan, banyak hal terjadi di luar persangkaan kita. Bagaimana pun cita-cita itu hanya melogiskan sangka yang nantinya butuh pembuktian dengan amal nyata. Orang yang berpengalaman dalam merancang cita, seringkali menyederhana cita namun menggesanya di medan kenyataan. Layaknya sahabat mulia ini yang berkata dengan lantang,

Aku semasa jahiliyah mencanangkan 1001 cita-cita, namun setelah aku Islam aku telah berjalan di atas cita-ciitaku itu.”

Tak heran beliau berkata begitu. Dan sejarah Islam pun menambat namanya dengan tinta emas. Seseorang yang kekayaan dari usaha tangannya, ia infakkan sebagian besarnya dalam membantu dakwah Islam. Dialah orang yang malaikatpun malu kepadanya. Seseorang yang mendapat dua cahaya, karena menikahi dua putri mulia Nabi kita shalallahu alaihi wasallam. Dialah Utsman bin ‘Affan, dzun nuraini.

Dalam ungkapan jujur tadi, seakan beliau ingin menegaskan bahwa tak cukup mencanang cita-cita yang terlampau banyak. Beliau lebih mengedepankan pentingnya usaha untuk menggapainya.

Kita telah tahu porsi dari masing-masing cita dan usaha pembuktiannya. Prinsip tawazun (tidak berat sebelah) dan adil (menempatkan sesuatu sesuai tempat dan porsinya) rasanya cocok untuk diterapkan pada perkara ini. Tinggal sekaranglah kita mulai petualangan kita. If not now, when? []

1 umpan balik:

wah ini mencambuk diriku,.. trims akhuna alkarim

Posting Komentar