Bak jabang bayi yang baru keluar dari perut ibunya, begitulah cahaya matahari pagi ini menyemburat merah menyala bagai keluar dari perut bumi. Cahaya yang menerangi sekaligus membuncahkan harapan pada seluruh makhluk untuk melangsungkan hidup hari itu. Cahaya yang mengusir kegelapan dan kenyenyakan menuju fajar yang bersambut keramaian manusia beraktivitas.
Sebagaimana khalayak, aku juga memulai aktivitas pagi ini di pagi buta. Bukan aktivitas tetapku, bahkan aktivitas untuk mengisi liburan ma’hadku yang hanya dua hari saja. Yap aku mengadakan perjalanan pulang ke kota kelahiranku.Perjalanan yang rutin aku adakan sepekan sekali ini aku gunakan untuk merefreskan pikiran setelah sepekan terbebani materi berat Bahasa Arab. Hal baru dari perjalanan kali ini adalah alat transportasi yang aku naiki. Biasanya aku naik kendaraan yang kupilih sekehendak hati, alias bus AKAP, namun kali ini aku diboncengkan temanku. Aku senang terhadap setiap hal baru. Apapun itu, meski hanya dengan menempuh tujuan perjalanan dengan rute yang berbeda.
***
Malam harinya sebelum aku benar-benar pulang, aku dikejutkan dengan kehadiran temanku itu ke asrama mahasiswa ma’had yang kutempati. Gak biasa temanku itu datang, apalagi malam-malam seperti itu. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung menawariku untuk pulang bersama dengannya, yang kebetulan rumahnya sekota dengan ku. Yang mengejutkan dan tak bisa kuterima adalah bahwa dia mengajak pulang malam itu juga. Dengan sedikit beralasan—cuacanya dingin-lah, jalanan gelap-lah—akhirnya bisa juga kurayu untuk pulang kesokan paginya. Benar, kami janjian untuk pulang setelah mendirikan shalat Shubuh.
Datanglah shubuh. Shubuh yang sangat berkesan bagiku, karena aku menjadi imam shalat jamaah di masjid ma’hadku. Bukan kali pertama sih, tapi sudah kali kesekian aku diajukan teman-temanku untuk menjadi imam. Bahkan mereka ‘bersekongkol’ untuk menjadikanku imam ratib. Ini cuma persangkaanku saja, karena terbukti dengan kemalasan mereka untuk datang ke masjid lebih awal. Sehingga aku yang sering ke masjid lebih awal, seringkali mereka jadikan hujjah untuk meyakinkanku bahwa hanya akulah yang pantas jadi imam. Tak apa sebenarnya, namun jiwa ini sering goyah untuk berada di depan. Jiwa yang sering merasa lebih dari yang lain. Jiwa yang sering melegitimasi kelakuan sendiri dan memvonis ‘salah’ perbuatan orang lain. Jiwa busuk macam apa ini? Allahumma…
Sedikit wirid rutin dilanjutkan ma’tsurat menjadi pemungkas ibadah maghdhohku. Saatnyalah sekarang beribadah dalam arti luas yang akan ku kerjakan. Sedari menanti temanku yang akan membersamaiku pulang menjemputku, kulantunkan beberapa ayat dari surat Al-Munaafiqun. Dengan irama imam Hafsh dan tempo tartil, memperindah murajaahku itu. Sejenak memasukkan pakaian dan buku-buku serta beberapa arsip penting ke dalam tas, temanku dengan motor Astrea Grand pabrikan Honda datang. Lengkap dengan helm yang kupesan kemarin yang akan saya pakai.
“Subhanalladzii sakhkhara lanaa hadza wamaa kunnaa lahu muqriniina, wa inna ilaa rabbinaa lamunqalibuun”, bisikku dalam hati mengawali perjalananku itu. Dengan tambahan dzikir-dzikir safar lainnya, kuberharap Allah menyelamatkanku hingga tiba di rumah. Dan ku ber-husnudz-dzaann pada temanku yang menyetir di depan, melakukan hal yang sama denganku.
Gagah memecah keheningan kota Solo, motor yang kami kendarai seakan kuda jantan memecah keheningan hutan tropis. Belum banyak kendaraan berlalu lalang, karena memang masih begitu pagi. Meski sesekali truk-truk muatan mengganggu perjalanan kami. Memang yang kami sedang lalui adalah jalan antar propinsi pantai selatan. Kami muak dengan ugal-ugalannya Bus AKAP, sehingga kami memutuskan untuk melalui jalan lain. Jalur alternative yang tentunya lebih pendek jarak tempuhnya, namun lebih ekstrim keadaan jalannya. Ya, kami memutuskan untuk melalui jalan tembus Cemoro Sewu, Sarangan. Dengan sedikit meyakinkan diri bahwa motor kami pasti bisa melaluinya.
Gemerlap kota Solo mulai menjauh dari kami, dan kami mulai memasuki kota Karang Anyar. Hawa sejuk pagi beraturan berubah menjadi dingin. Diperlengkap kaburnya pandangan kami oleh selimut kabut, seakan membuat rasa kantuk kami semakin menjadi. Namun kami tidak diberi kesempatan untuk mengantuk di perjalanan. Apa mau kami nubruk marka atau jatuh ke jurang karena kondisi jalannya yang berkelok-kelok dan naik-turun tajam. Kondisi jalan semacam itu justru menguntungkan kami. Kami yang semula ingin tidur lelap, menjadi bangkit terjaga. Kami yang semula tertunduk sayu, menjadi tegak terpancang. Kami yang semula menyipit silau, menjadi menatap lekat. Kami yang semula memandang serampang, menjadi menelisik jeli.
Semakin naik bertambahlah dingin suhu kaki gunung itu. Tak jarang kurasakan dingin di kaki dan tanganku yang kubiarkan terbuka. Pun juga sesekali ku lihat temanku menggigil kedinginan sehingga terasa pada guncangnya kestabilan motor. Namun mentari semakin menuju sepenggalah, dan itu artinya pagi semakin terang. Ku berharap segera lenyapnya rasa dingin yang membalut tulang ini.
Motor kami bagai kuda lincah menaiki lereng bukit. Tak membuat motor yang berangka tahun lebih tua dari umur kami ini terlihat ‘kecapaian’. Meski sesekali ‘diejek’ bebek-bebek muda dengan mendahului kami. Wuuushshsh…! Kami biarkan saja, dan memang kami tak ingin mengejarnya. Kami nikmati saja pelannya motor kami dengan memuaskan mata terhadap pemandangan di kanan kiri kami. Allahu akbar… Maha Besar Allah.
Sawah menghampar hijau seakan saling bertindih satu sama lain. Pemukiman penduduk setempat yang seakan perumahan elit, padahal sebenarnya biasa. Penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayuran ini tak menyesal bertinggal di tempat seekstrim itu. Mereka lebih percaya ke-Maha Luas-an pemberian Allah yang Dia berikan kepada siapa saja di mana saja daripada memilih hidup di perkotaan.
Sesekali kami melewati sekolah-sekolah dengan siswa-siswa luar biasanya. Luar biasa karena melakukan hal yang luar biasa. Para siswinya lebih memilih berseragam dengan balutan jilbab menutup rambutnya. Dengan tas kupu-kupu menempel di punggungnya, mereka tampak memancarkan harapan akan masa depan mereka. Meski demikian jiwa ini sesekali berontak. Mengapa putra-putri yang lugu dan penuh harap seperti itu diberikan pendidikan yang sekuler dan hampir liberal yang dicekokkan oleh pemerintah melalui guru-guru mereka. Benar-benar ingin memberontak. Memberontak hanya ingin memberikan perlindungan anak-anak yang masih fitrah seperti itu agar mendapatkan pendidikan yang tak berbau konspirasi. Pendidikan yang jujur. Pendidikan tentang hati nurani agar senantiasa bersih. Bukan pendidikan yang melahirkan sarjana-sarjana bejat, doctor-doktor penyesat umat, dan pemerintah yang rajin korupsi dan pendukung maksiat. Na’udzubillah min dzalik.
Tampak juga sesekali wanita-wanita dan ibu-ibu yang berjubah dan berjilbab besar berlenggang bebas di jalanan. Hawa yang dingin seakan menjadi alasan tertepat untuk membantah kaum pluralis yang menentang syari’at jilbab ini. Mereka yang tak mempan di beri dalil tentang wajibnya hijab bagi kaum wanita, seakan terbungkam dengan kondisi hawa dingin daerah mereka. Mereka seakan tidak mempermasalahkan bagi setiap wanita untuk mengenakan ‘baju hangat’ berupa jubah dan jilbab. Hadza min fadhli rabbi…
***
Tak kunjung habis juga tikungan tajam dan naik turunan yang menggigit ini. Ingin rasanya segera sampai rumah. Mentari yang mulai tinggi mengintip kami dari sela-sela cemara. Kulihat jam di ponselku. Tertera di situ 6.45. Terhitung 45 menit sejak keberangkatan tadi. Empat puluh lima menit yang menegangkan dengan ekstrimnya kondisi jalan. Pun kami seakan ‘dibayar’ dengan kengerian jalan itu dengan tak habis-habisnya pula pemandangan indah yang tersaji. Tak henti-hentinya tasbih, takbir dan tahmid mengiringi dan membasahi lisan kami. Kami baru merasakan benar-benar manfaat dzikir perjalanan ketika di medan ekstrim macam itu. Bagi mereka yang hanya mondar-mandir di jalan datar pasti menganggap dzikir perjalanan sebagai omong kosong, tapi coba saja suruh mereka melewati jalanan yang ekstrim penuh tanjakan dan turunan, pasti mereka ingin selamat ¬toh? Maka inilah hikmah disyari’atkannya dzikir perjalanan. Bertakbir saat tanjakan sebagai pengingat kekuasaan Allah dan penambah semangat mengarunginya. Bertasbih saat turunan sebagai pujian atas ke-Maha Pengasih-an Nya dengan memberi kita kemudahan dan menyucikan Allah dari segala kekurangan dan hal yang minus. Dan bertahmid saat datar adalah ungkapan syukur atas karunianya. Wallahu a’lam…
Seakan diberi hadiah mendadak dari seseorang yang tak diduga, begitulah rasanya saat kami menjumpai turunan pertama yang artinya mengakhiri tanjakan yang sedari tadi. Turunan yang sekaligus menjadi pemungkas kecemasan kami. Mungkin kami tidak seperti wali Allah yang mengatakan, “Kami lebih bersemangat berjalan ketika menanjak, karena saya yakin pasti setelahnya ada jalan menurun. Dan kami justru khawatur berjalan ketika menurun, karena saya yakin pasti setelahnya ada jalan menanjak”, tapi kami manusia normal yang menyukai jalan menurun. Tentu jalan menurun dalam makna denotasi lugasnya, bukan perumpamaan bagi jalan yang mudah dalam melaksanakan dien. Saya tidak mau disindir Allah seperti dalam Kitab-Nya.
فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
“Tetapi dia tiada (mau) menempuh jalan yang mendaki lagi sukar” (QS. Al-Balad: 11)Ya kami benar-benar beda. Pun kondisi jalanan yang kami tak sesederhana kesimpulan sang wali tersebut. Bahwa setiap sesudah turunan pasti setelahnya naikan. Itu tidak berlaku di sini, di mana setelah turunan adalah turunan dan turunan lagi. Yap karena kami sedang menuruni gunung menuju kakinya. Kaki gunung yang serba hijau dedaunan dan coklat bebatang pepohonan, disempurnakan dengan hamparan tawadhu sang telaga. Telaga yang membiaskan cahaya mentari dan meriak-riakkan fatamorgana, menambah derunya suasana hati kami. Deru syukur ke hadirat Ilahi Rabbi Yang Mencipta segala isi bumi dan langit sebagai atap yang menutupi.
Hanya takjub. Takjub karena keterbatasan kami dibanding ke-Maha Segala-an Allah. Memang kami ini siapa kok berani-beraninya menyetarakan diri dengan Tuhan? Hanya setitik mani yang membesar lalu menyombongkan diri di permukaan. Huh, kayak gitu aja sesumbarnya minta ampun. Tuh lihat Fir’aun. Dari fir’aun masa lampau hingga masa kini—yang terwakili Amrik Inc.—yang ‘memaksakan kehendaknya’ untuk ‘menjabat’ sebagai tuhan. Ya cuma sok-sokan. Sok menjadi pemutus perkara antara manusia. Sok menjadi penengah persengketaan. Sok menjadi hakim yang mempunyai undang-undang—dengan hukum positifnya. Sok menjadi penyebar perdamaian di muka bumi. Padahal?
Semua itu hanya pepesan kosong. Penyebar perdamaian macam apa yang dalam mewujudkannya menumpahkan darah sipil, yang terdiri dari wanita dan anak-anak tak berdosa? Okelah, kalau mereka katakan bahwa perdamaian sesekali diwujudkan dengan perang. Namun apa lacur? Mereka itu penjahat perang yang menitis di permukaan bumi. Sebuah gelar yang sangat buruk di dunia kalau gelar ‘penjahat perang’ diberikan pada sebuah negara. Yang artinya adalah penjajah bangsa lain dengan melanggar norma-norma kemanusiaan dan batas-batas kewajaran serta menghalalkan segala cara untuk menggapai maksudnya.
Mau bukti? Mari kita rewind sejenak ke pentas laga kolosal terbesar di abad 21. Gaza! Bagaimana pembantaian massal terjadi dan ditayangkan di layar kaca seluruh dunia. Ironis sekali karena tak ada pihak yang memprotes tingkah ‘keturunan kera dan babi’ mengangkangi bumi para anbiya’. Bahkan sekelas PBB-pun tak bersuara apa-apa. Apa ini? Di mana HAM yang kau keluarkan untuk mengatur seluruh manusia katamu? Apakah HAM terdapat pengecualian? Apakah HAM tidak berlaku bagi bangsa Timur Tengah? Mengapa HAM tidak berlaku universal seperti yang telah kau janjikan. Tahu kalau kau mengkhianati begini, dulu kami tak setuju dengan usulan HAM-mu itu. Maka jangan marah kalau kami katakan, “Persetan dengan HAM!!”. Persetan denganmu wahai Setan.
Tak ingin saya gambarkan berbagai kekejian yang dilakukan Yahudi dalam misi pendudukan Palestina, yang tak jauh-jauh amat dari negara senasib tetangganya. Kengerian yang amat inilah yang menjadikan sifat ketidaktegaanku menceritakan di sini. Siapa yang tega melihat bayi-bayi menangis tanpa kepala yang dibentur-benturkan di tembok Palestina? Siapa juga yang tega mendengarkan jeritan bayi-bayi tanpa lengan memanggil-manggil di bumi Afghanistan? Biarlah mereka menemui Allah dengan syahid-nya sedang kita masih menunggu mengusir ragu untuk ikut maju.
***
Jalan bergelombang dan setengah rusak membangunkanku dari lamunan panjang sedari tadi tentang saudaraku yang sedang bertempur membela iman. “Ah, iri juga aku pada mereka”, bisikku. Bagaimana tidak? Saya yang belajar tauhid bertahun-tahun hanya sebatas teori sebagai pemuas kerakusanku terhadap ilmu dien. Sedang mereka sudah mampu menerjemahkan teori yang sama dengan yang kupelajari di alam kenyataan. Mereka paham betul ayat ini,
وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ إِلَّآ أَنْ يُؤْمِنُوْا بِاللهِ الْعَزِيزِ الحَمِيدِ
"Dan mereka (Yahudi) tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Al-Buruj:8) “Ahh, Setiap zaman dan tempat ada pahlawannya”, ku membela diri lirih. Ya, kuingin ada perbuatan lain yang ‘sekandung tapi tak serupa’ dengan yang dilakukan saudaraku di Timur-Tengah, namun memiliki nilai sama di hadapan Allah. “Uff, semoga!”. Ya kalau mereka dianugrahi syahid saat shalat dan tilawah Al-Qur’an di masjid-masjid yang seketika dijauhi roket seukuran tubuh manusia dewasa, maka aku berharap Allah mengaruniaku syahid di tangan penguasa dhalim yang aku teriaki agar kembali ke Hukum Allah di negeriku.
“Ihh, kok nglamun lagi, sih..” , keluhku yang sedang duduk di jok belakang motor tak beraktivitas. “Bukan, ini bukan lamunan, tapi harapan”, lanjutku menyudahi kepasifan tubuh yang dari tadi duduk. Ya, ku menyudahi mimpi di siang bolong—kalau gak mau dibilang lamunan—saat melihat pemandangan di depanku. Aku agak pangling dengan jalanan di pegunungan Lawu yang sudah banyak berubah. Jalan akses semakin diperlandai. Dan setahuku, Pemkot setempat berencana membuka keterisoliran kotaku dengan membuat jalan tembus ini. Keterisoliran yang akut, sehingga Magetan—kota yang penuh keindahan dan kekhasan—bagai hilang dari peta nusantara. Yah, ku mendo’a saja semoga rencana Pemkot ini mengandung berkah bagi masyarakat Magetan pada umumnya.
“Alhamdulillah, sampai juga.”, girangku di hati saat melihat atap rumah tampak dari kejauhan. Di samping rasa bahagia yang membuncah, ku juga merasakan khawatir. khawatir kalau di hari-hari yang akan datang tak lagi mendapat kesempatan bertafakur ayatur-Rahman di alam seperti pagi ini. Tafakur terhadap hikmah penciptaan makhluk-Nya yang luar biasa di sela-sela padatnya aktivitas. Tapi semoga saja tidak. Semoga Allah mengaruniaku umur panjang dan keberkahannya untuk senantiasa memupuk rasa khauf di hati hingga ajal menjemput. “Jazakallahu khairal jazaa’, Akh..”, ungkapku berterima kasih kepada temanku yang juga Al-Akh itu. Seraya berlalu, dia menyudahi perjumpaan denganku dengan salam. []
Typed on 20 Maret 2010 | 9.15 am





0 umpan balik:
Posting Komentar